Peristiwa Politik Penting pada Masa Orde Baru (Sejarah Nasional Indonesia)
- Tri Tuntutan Rakyat (Tritura)
Latar belakang
- Sikap
pemerintah yang tidak tegas terhadap PKI yang telah melakukan
pengkhianatan terhadap negara.
- Kondisi
ekonomi yang memburuk.
Hal-hal di atas melatar belakangi
munculnya kesatuan-kesatuan aksi.
- Pada
tanggal 10 Januari 1966, Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan
Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) memelopori
kesatuan-kesatuan aksi untuk menuntut Tiga Tuntutan Hati Nurani Rakyat
yang terkenal dengan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura).
Isi Tritura sebagai berikut.
- Pembubaran PKI.
- Pembersihan kabinet dari
unsur-unsur G 30 S/PKI.
- Penurunan harga dan perbaikan
ekonomi.
- Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar)
Pada tanggal 11 Maret 1966 Presiden
Soekarno menyetujui memberikan perintah kepada Letnan Jenderal Soeharto untuk
memulihkan keadaan dan wibawa pemerintah. Surat mandat ini diberikan di lstana
Bogar dan dikenal dengan nama Surat Perintah Sebelas Maret 1966 (Supersemar).
- Sidang Umum MPRS
Sidang Umum IV MPRS diselenggarakan pada
17 Juni 1966 menghasilkan beberapa ketetapan yang dapat memperkokoh tegaknya
Orde Baru, yaitu
- Ketetapan MPRS No. IX tentang
pengukuhan Surat Perintah Sebelas Maret.
- Ketetapan MPRS No. XXV tentang
pembubaran PKI dan ormas-ormasnya serta larangan penyebaran ajaran
Marxisme-Komunisme di Indonesia.
- Ketetapan MPRS No. XXIII
tentang pembaruan landasan kebijakan ekonomi, keuangan, dan pembangunan.
- Ketetapan MPRS No. XIII
tentang pembentukan Kabinet Ampera yang ditugaskan kepada Pengemban Tap
MPRS No. IX.
- Nawaksara
- MPRS
meminta pertanggungjawaban Presiden Soekarno dalam Sidang Umum MPRS 1966
atas terjadinya Pemberontakan G 30 S/PKI, kemerosotan ekonomi dan moral.
- Presiden
Soekarno menyampaikan amanatnya pada 22 Juni 1966 yang berjudul Nawaksara
(sembilan pasal).
- Amanat
tersebut oleh MPRS dipandang tidak memenuhi harapan rakyat karena tidak
memuat secara jelas kebijaksanaan presiden.
- Pada
22 Februari 1967, Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada pengembangan
Ketetapan MPRS No. IX, yaitu Jenderal Soeharto.
- Pemilihan umum (Pemilu)
- Pemilihan
umum pertama pada masa orde baru dilaksanakan pada 3 Juli 1971. Diikuti
oleh 10 partai, yaitu
- PKRI,
- Nahdatul
Ulama (NU),
- Parmusi,
- Parkindo,
- Musyawarah
Rakyat Banyak (Murba),
- Partai
Nasional Indonesia (PNI),
- Perti,
- lkatan
Pendukungan Kemerdekaan Indonesia (IPKI), dan
- Golongan
Karya (Golkar).
Pemilu ini dimenangkan Golkar.
- Pemilu
selanjutnya dilaksanakan pada 1977, 1982, 1987, 1992.
Pemilu tahun 1977-1997 diikuti oleh tiga organisasi peserta pemilu, yaitu - Partai
Persatuan Pembangunan (PPP),
- Golongan
Karya (Golkar), dan
- Partai
Demokrasi Indonesia (PDI).
Pemilu-pemilu di Indonesia, selama Orde
Baru selalu dimenangkan oleh Golkar.
- Sidang MPR Tahun 1973
Pada Maret 1973, diadakan sidang MPR
yang menghasilkan beberapa keputusan sebagai berikut.
- Tap
No. IV/MPR/1973 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai
ganti Manipol/ Manifestasi Politik.
- Tap
No. IX/MPR/1973 tentang pemilihan Jenderal Soeharto sebagai Presiden RI.
- Tap
No. XI/MPR/1973 tentang pemilihan Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai
Wakil Presiden RI.
- Berakhirnya orde baru
- Sejak
pertengahan tahun 1996, situasi politik memanas di Indonesia.
- Rakyat
menuntut adanya perubahan di bidang politik, ekonomi, dan demokratisasi
dalam kehidupan sosial serta dihormatinya hak asasi manusia.
- Hasil
pemilu 1997 yang dimenangkan Golkar dan menguasai DPR/MPR banyak
mengandung unsur nepotisme.
- Terpilihnya
lagi Soeharto sebagai Presiden RI banyak mendapat reaksi masyarakat.
- Pembentukan
Kabinet Pembangunan VII dianggap berbau Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme
(KKN).
- Indonesia
dilanda krisis ekonomi sejak pertengahan tahun 1997 sebagai pengaruh
krisis moneter yang melanda wilayah Asia Tenggara.
- Melihat
kondisi bangsa Indonesia tersebut, para mahasiswa memelopori demonstrasi
memprotes kebijakan pemerintah Orde Baru. Aksi demonstrasi ini berhasil
menggulingkan Orde Baru sehingga tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto
menyerahkan jabatannya kepada Wakil Presiden B.J. Habibie.
No comments:
Post a Comment