Kehidupan Politik Nasional dan Daerah Setelah Kemerdekaan (Sejarah Nasional Indonesia)
Indonesia mengalami berbagai situasi sebagai
dampakdari keadaan politik nasional sejak diakuinya kedaulatan RI tanggal 27
Desember 1949 sampai tahun 1960. Beberapa hal yang menjadi persoalan adalah
- Hubungan pemerintah pusat dan daerah kurang
harmonis
Hal ini disebabkan oleh masalah otonomi
serta perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. Akhir tahun 1956 beberapa
panglima militer di berbagai daerah membentuk dewan-dewan yang ingin memisahkan
diri dari pemerintah pusat, antara lain:
- Di
Padang, Sumatra Barat
Berdiri : Dewan Banteng
Pimpinan : Letnan Kolonel Achmad Husein - Di
Medan, Sumatra Utara
Berdiri : Dewan Gajah
Pimpinan : Kolonel Simbolon - Di
Sumatra Selatan
Berdiri : Dewan Garuda
Pimpinan : Kolonel Barlian - Di
Manado, Sulawesi Utara
Berdiri : Dewan Manguni
Pimpinan : Kolonel Ventje Samual
- Persaingan ideologi
Sejak tahun 1950 persaingan antara
kelompok Islam dan kelompok nasionalis mulai terlihat.
Ciri-ciri:
- Partai-partai
politik terpecah-pecah dalam berbagai ideologi yang sukar dipertemukan,
dan
- hanya
mementingkan golongannya sendiri.
Pada saat itu, kabinet yang berkuasa
silih berganti hanya dalam waktu singkat, yaitu tahun 1950-1955. Terdapat empat
kabinet yang memerintah, antara lain:
- Kabinet
Natsir
Masa kerja: 6 September 1950-20 Maret 1951. - Kabinet
Sukirman
Masa kerja: 26 April 1951- Februari 1952. - Kabinet
Wilopo
Masa kerja: April 1952- 2 Juni 1953. - Kabinet
Ali Sastroamidjoyo I
Masa kerja: 31 Juli 1953 - 24 Juli 1955.
No comments:
Post a Comment